Menu pondok pesantren

DSC_0109

Kalau bisa memilih, saya mau menu makanan yang beragam dan berbeda tiap harinya. Ada karbohidrat, lemak, dan proteinnya, tak ketinggalan vitamin dan mineralnya. Empat sehat Lima sempurna. Konon karbohidrat adalah penambah energi, dan protein adalah penambah kecerdasan. Makanya dalam menu tukang batu porsi nasi lebih banyak, dan dalam menu seorang dosen porsi ikan lebih banyak. Bagaimana dengan porsi menu anak pesantren? Kalau saya jadi anak pesantren dan melihat daftar menu ini, mungkin saya akan jajan diluar tiap hari selasa sampai kamis. Membosankan.


Mimpi indah nak

C360_2015-12-26-23-33-02-520

Khal sudah terlelap dalam tidurnya. Bahagianya orang tua kalau melihat momen seperti ini, anaknya tidur dalam damai. Entah anak dua tahun sudah bisa bermimpi dalam tidurnya atau belum, saya sudah lupa. Yang jelas Khal biasanya mengigau kalau tidur, sepertinya bermimpi diganggu kakak-kakaknya, sampai menangis pelan. Konon mimpi itu adalah bunga tidur, dan mimpi tersebut adalah ekspektasi alam bawah sadar. Kalau pikiran selalu tentang yang baik-baik, mimpi pun akan tentang yang baik-baik tersebut. Kalau anak sering main dengan gembiranya, mimpinyapun akan tentang permainan.


Macet pasti berlalu

_20151223_214953

Pantat berkedut, tanda kalau sudah bosan duduk. Macet dari bandara lama ke bandara baru telah dilalui, ternyata gara-gara “lampu merah” di perlimaan bandara mati. Tak ada yang mau mengalah, saling mendahului. Pak polisi pun jadi bingung, sendirian berusaha mengatur lalulintas yang luar biasa semrawut. Awal libur panjang, mati lampu, jalan sempit, dan volume kendaraan meningkat jadi penyebabnya. Total satu jam dihabiskan melewati jalan yang tak sampai satu kilometer. Setelahnya, lantjar djaja. Sopir pete-pete membalap mobilnya kesetanan. Mungkin pantatnya juga berkedut. Dut dut.


Pete-pete adventure

_20151223_214325

Macet dari jalur Bandara Lama ke Bandara Baru. Sudah saya perkirakan, berhubung sore ini adalah permulaan libur panjang. Kemarin saja macetnya minta ampun, jalur ini saya tempuh setengah jam, padahal kalau lancar tak sampai semenit. Beruntung saya naik pete-pete, angkot khas Makassar. Saya tinggal duduk tenang menanti perjuangan sopir pete-pete menembus kemacetan. Saya memilih berpanas ria di dalam pete-pete daripada stress bawa kendaraan. Kadang sopir pete-pete beraktraksi mengambil jalur sempit nan becek yang sebenarnya hanya muat dilalui motor. Sabar, macet pasti berlalu.


Semangat hari ibu

DSC_1412

Hari ini diperingati sebagai hari Ibu. Saya belum googling bagaimana sejarahnya sampai demikian, siapa pencetusnya, atau bagaimana perayaannya. Tengoklah media sosial, tak sedikit yang mengucapkan doa-doa dan ucapan terima kasih untuk ibunya, lengkap dengan foto profilnya bersama sang Ibu. Mungkin saya termasuk anak durhaka, dan tak perhatian. Tak ada ucapan khusus selamat hari ibu, karena setiap hari ada mention doa untuknya. Cukuplah tadi menelepon, mengetahui beliau sehat walafiat. Lagian saya memanggil Mama’ pada perempuan tangguh yang melahirkan dan membesarkan saya, bukan “Ibu”.


Lansekap hamparan sawah

Pemandangan Sawah Maros

Musim hujan telah tiba, tanah dan sawah mulai basah. Beberapa hari lagi sawah kembali menghijau, menandai awal musim tanam. Pemandangan seperti ini adalah favorit saya, hamparan luas sawah dengan langit biru. Ada pohon yang tumbuh di tengah sawah. Tak sulit menemukan lansekap seperti ini di Maros, bahkan ada yang lebih indah dengan gunung karst yang kokoh menjulang. Hari itu seorang teman kantor sedang berbahagia, menikahkan anak sulungnya. Saya pun turut bersuka cita, selain bisa memotret pemandangan belakang rumahnya yang indah ini tentunya.


Takut sama dokter

Depan UGD

Hari sabtu yang lalu putri kecil kami, Khal mendadak demam. Dia bahkan meronta kesakitan. “atit eyut”, keluhannya, ditranslate sebisanya menjadi sakit perut. Mungkin betul-betul sakit perut karena perutnya dia pegangi terus sambil minta diusapkan minyak telon. Saat dia bilang “ampun”, kami bergegas ke rumah sakit. Kami khawatir dia tertular tyfoid dari kakak sepupunya, Sophia. Namun di pintu UGD rumah sakit dia berontak, tak mau masuk, tiba-tiba sembuh dan minta pulang. Anak sekecil ini takut sama dokter. Kami pulang tanpa sempat periksa dokter.