Hey Ho Lets Go

Hey Ho, Lets Go. Hey Ho, Lets Go. Hey Ho, Lets Go. Hey Ho, Lets Go. They’re forming in a straight line. They’re goin through a tight wind. The kids are losing their minds. Blitzkreig Bop. They’re piling in the backseat. They’re generation steam heat. Pulsating to the back seat. Blitzkreig Bop. Hey Ho Lets Go. Shoot em’ in the back now. What they want, I don’t know. They’re all reved up and ready to go. What they want, I don’t know.

Iklan

I’m not stupid enough to stay with you

Standing on the corner of the Avenue. Ripping up my transfer and a photograph of you. You’re a blur of my dead past and rotting existance. As I stand laughing on the corner of insignificance. Half brain dead. I may be dumb. But I’m not stupid enough to stay with you. Well, destiny is dead. In the hands of bad luck. Before it might have made some sense. But now it’s all fucked up… We’re all fucked up… You’re all fucked up…


Menu Sehat Ala Germas


Menu pilihan Germas, terkesan “kampungan”, mungkin identik dengan santapan kakek-nenek. Semuanya serba direbus (atau dikukus). Jagung, pisang, dan ubi, semuanya direbus, tanpa garam apalagi micin. Orang kantor membuat sambel sebagai pelengkap hidangan, nah sambel inilah yang (mungkin) bergaram-micin. Abaikan bagian bawahnya, itu nasi rantangan kantor yang belum di Germas-kan. Menu “sehat” ala Germas mesti disosialisasikan di hotel tempat pertemuan, jangan melulu kue buatan yang mengandung “bahan tak penting” macam pengawet atau pewarna. Selain sehat, menu Germas relatif lebih murah. Mari makan.


Nasi Goreng Kambing

Nasi goreng kambing buatan Sar, maknyuss. Menu hari kedua lebaran Idul Adha tahun ini kembali disuguhi dengan daging-dagingan. Saya lagi badmood dengan daging sapi pemberian anu, makanya daging kambing menjadi pilihan terakhir. Sate kambing polos tanpa bumbu dibuat dari kemarin, sisanya yang belum habis juga karena tak ada yang doyan selain saya dibuatkan nasi goreng. Ditambah bumbu rahasia Sar, jadilah nasi goreng kambing ini. Rasanya inilah nasi goreng paling enak yang pernah masuk ke perut saya. Enak karena dibuat sepenuh hati. Mungkin.


Pura-pura Adipura

Penghargaan adipura biasa saja, tidak bergengsi. Instrumen penilaiannya hanya fisik saja seperti sampah, ruang terbuka hijau, fasilitas umum, kualitas udara, dan ada tambahan tentang perubahan iklim, pertambangan dan kebakaran hutan. Bukan rahasia lagi ketika menjelang Adipura semua perangkat pemerintahan kabupaten/kota berbenah diri. Kasarnya “berpura-pura”. Instrumen penilaian adipura harus lebih spesifik dan melibatkan penilaian publik apakah semua hasil penilaian yang dilakukan tim penilai sudah objektif atau semuanya hanya “pura-pura” saja. Tentu yang diharapkan adalah keberlanjutan bukan kepura-puraan hanya karena ingin dapat adipura. 


Panorama Gunung Karst

Hamparan tanah lapang, jejeran karst gunung batu, awan putih yang bersusun rapi, dan langit biru adalah pemandangan yang sudah biasa di wilayah perbatasan Maros dan Pangkep. Namun saya selalu takjub apabila disuguhi pemandangan seperti ini, seperti lukisan. Sungguh nikmat yang harus disyukuri kepada Sang Maha Pencipta. Betapa saya ini hanyalah setitik sangat kecil di dunia yang fana ini. Seharusnyalah juga saya menjaga ciptaanNya dengan baik, minimal tidak berkontribusi terhadap kerusakan alam. Ah, saya ngomong apa? Ngelantur. Sudah larut malam, mari bermimpi indah.


Masa Paling Bahagia

Hari ketiga “sekolah”, belum pakai seragam karena belum ada baju “pembagian”. Pagi dihabiskan dengan bahagia, bermain ular naga panjang bersama teman dan ibu guru. Walaupun terlambat, ibu guru tak marah, langsung masuk ke paling akhir barisan. Langsung bermain sambil seru-seruan. Anak-anak TK lah yang paling bahagia sedunia. Pikirannya hanya bermain, bermain, dan bermain. Tak ada beban hidup. Berbahagia teruslah nak, walaupun mungkin besok-besok main sudah berkurang, bertambah belajar yang semoga tetap membuatmu bahagia. Eh, guru TK mungkin profesi paling bahagia di dunia.