Category Archives: Uncategorized

Libur Lebaran di Bili-bili

Lebaran Idul Fitri 1438H Hari Ketiga kemarin dituntaskan di tempat wisata kuliner Bendungan Bili-bili, Kabupaten Gowa. Seperti biasa, Papaboss yang mentraktir kami. Tak perlulah saya ceritakan bagaimana ikan air tawar yang ditawarkan disini membuat perut kembali melar setelah puasa plus diet sebulan penuh, cukuplah saya yang merasakan “penyesalan” ini. Yang (lumayan) penting adalah permainan perahu bebek-bebek yang baru saya perhatikan ada dibanding kunjungan-kunjungan sebelumnya. Bebek-bebekan ini menawarkan jasa keliling pulau di tengah bendungan 20ribu perorang. Lumayan menghibur anak-anak. Selamat lebaran, semangat berlibur.


Hari nan Syahdu, Semangat Berpuasa

Hari pertama puasa Ramadhan edisi 2017 berjalan khusyuk. Cuaca yang biasanya panas terik menyengat tidak tampak hari ini, berganti mendung-mendung syahdu tanpa hujan. Sungguh, Allah sangat meringankan puasa hari ini, Alhamdulillah bisa beribadah dengan enjoy. Hal yang menjadi sedikit penghalang hanyalah postingan makanan dan minuman di medsos yang syukurlah tidak sampai membuat ngiler dan menelan ludah. Ataupun pergosipan murahan yang entah mengapa tak bisa di counter. Mungkin sebaiknya memperbanyak tadarusan ataupun nonton ceramah agama. Semoga suasana esok hari seperti ini. Semangat berpuasa.


Meja Njlimet

Meja berantakan tak terurus, mungkin demikian juga dengan isi kepalaku, njlimet. Istirahat siang ini diisi dengan makan siang, lalu mengkhayal, bermuram durja, dan foto-foto. Njlimet? Ya. Gaji 13 tak kunjung terang benderang, paska kasus mbolos upacara kemarin. STNK kendaraan pinjaman jatuh tempo besok. Baru saja pulang dari pegadaian, mencari solusi penyambung hidup, minimal setengah bulan kedepan. Kiriman barang tak sampai-sampai dari JNE menambah galau hari ini. Sepertinya segelas besar kopi bisa menentramkan gundah gulana, tapi meja berantakan membuat bad mood lagi. Semangat!


Pusat Kota

Tinggal di pusat kota seperti Jakarta Pusat bagaimana rasanya yah? Adakah “rakyat jelata” yang tinggal menetap disini, berbagi oksigen dengan istana negara contohnya, atau bersebelahan tembok dengan hotel berbintang sekian? Saya bisa bayangkan property disini minta ampun harganya. Saya yang rakyat jelata dari pinggiran kota tak bisa membayangkannya. Bagaimana interaksi antar warga? Nafsi nafsi, kau kau, saya saya. Tentu pemandangan yang sangat kontras nan senjang akan tampak. Di lorong rakyat jelata penuh jemuran, di hotel sebelah asyik berenang. Sepertinya tak ada “rumah”.


Semangat Melemah

Mungkin Mbayyah sudah lelah. Menyiapkan hidangan buka puasa buat seluruh anggota keluarga dijalani sejak siang hari, saat penghuni rumah sedang beribadah (baca: baring-baring malas) di kamar atau menonton tv di ruang tengah. Walaupun melelahkan, aktifitas “melayani” tetap Mbayyah lakukan dengan ikhlas. Disela kesibukannya, Mbayyah kadang beristirahat (baca: tertidur) dimanapun. Kadang di sofa ruang tamu, ataupun di lantai dapur yang sejuk. Seperti juga siang ini. Mungkin dia mulai lelah, tertidur dengan pulas sampai tak menyadari tengah difoto. Sehat terus, berbahagialah di sisa pengabdianmu.


Lansekap hamparan sawah

Pemandangan Sawah Maros

Musim hujan telah tiba, tanah dan sawah mulai basah. Beberapa hari lagi sawah kembali menghijau, menandai awal musim tanam. Pemandangan seperti ini adalah favorit saya, hamparan luas sawah dengan langit biru. Ada pohon yang tumbuh di tengah sawah. Tak sulit menemukan lansekap seperti ini di Maros, bahkan ada yang lebih indah dengan gunung karst yang kokoh menjulang. Hari itu seorang teman kantor sedang berbahagia, menikahkan anak sulungnya. Saya pun turut bersuka cita, selain bisa memotret pemandangan belakang rumahnya yang indah ini tentunya.


Takut sama dokter

Depan UGD

Hari sabtu yang lalu putri kecil kami, Khal mendadak demam. Dia bahkan meronta kesakitan. “atit eyut”, keluhannya, ditranslate sebisanya menjadi sakit perut. Mungkin betul-betul sakit perut karena perutnya dia pegangi terus sambil minta diusapkan minyak telon. Saat dia bilang “ampun”, kami bergegas ke rumah sakit. Kami khawatir dia tertular tyfoid dari kakak sepupunya, Sophia. Namun di pintu UGD rumah sakit dia berontak, tak mau masuk, tiba-tiba sembuh dan minta pulang. Anak sekecil ini takut sama dokter. Kami pulang tanpa sempat periksa dokter.