Monthly Archives: September 2017

I’m not stupid enough to stay with you

Standing on the corner of the Avenue. Ripping up my transfer and a photograph of you. You’re a blur of my dead past and rotting existance. As I stand laughing on the corner of insignificance. Half brain dead. I may be dumb. But I’m not stupid enough to stay with you. Well, destiny is dead. In the hands of bad luck. Before it might have made some sense. But now it’s all fucked up… We’re all fucked up… You’re all fucked up…

Iklan

Menu Sehat Ala Germas


Menu pilihan Germas, terkesan “kampungan”, mungkin identik dengan santapan kakek-nenek. Semuanya serba direbus (atau dikukus). Jagung, pisang, dan ubi, semuanya direbus, tanpa garam apalagi micin. Orang kantor membuat sambel sebagai pelengkap hidangan, nah sambel inilah yang (mungkin) bergaram-micin. Abaikan bagian bawahnya, itu nasi rantangan kantor yang belum di Germas-kan. Menu “sehat” ala Germas mesti disosialisasikan di hotel tempat pertemuan, jangan melulu kue buatan yang mengandung “bahan tak penting” macam pengawet atau pewarna. Selain sehat, menu Germas relatif lebih murah. Mari makan.


Nasi Goreng Kambing

Nasi goreng kambing buatan Sar, maknyuss. Menu hari kedua lebaran Idul Adha tahun ini kembali disuguhi dengan daging-dagingan. Saya lagi badmood dengan daging sapi pemberian anu, makanya daging kambing menjadi pilihan terakhir. Sate kambing polos tanpa bumbu dibuat dari kemarin, sisanya yang belum habis juga karena tak ada yang doyan selain saya dibuatkan nasi goreng. Ditambah bumbu rahasia Sar, jadilah nasi goreng kambing ini. Rasanya inilah nasi goreng paling enak yang pernah masuk ke perut saya. Enak karena dibuat sepenuh hati. Mungkin.