Monthly Archives: November 2015

Pengumpul Kardus Bekas

_20151118_173128

Kerasnya hidup dicitrakan dari bapak pengumpul kardus bekas ini. Beliau tiba-tiba masuk ruangan kantor, sekedar meminta izin mengambil kardus bekas yang berserakan di halaman. Saya terhenyak, melihat keriput dan lelah di wajah beliau, namun tak hentinya mengucap terima kasih saat kardus bekas yang dimaksud bisa dia bawa pulang. Wajah beliau mendadak sumringah saat seorang teman menawarkan kardus bekas yang ada di ruang rapat. Entah berapa harga jual kardus bekas perkilogramnya, kami yakin satu becak penuh kardus pun tak cukup 50 ribu rupiah.

 


Tukang Batu

Tukang Batu

Tukang batu, profesi ini acapkali dipandang sebelah mata, pekerja kasar. Namun saat dibutuhkan, tukang batu susah ditemukan, pun kalau ada jual mahal. Penilaian mahal atau murahnya ongkos tukang batu sangat subjektif, tergantung lokasi, beratnya pekerjaan, dan kemurahan hati. Tapi saat melihat tetesan keringat mereka ketika bekerja membuat hati ini tak tega menawar jasa pekerjaannya dengan murah. Mereka manusia juga, bukan sapi perah. Tapi hukum ekonomi masih berlaku, jangan sampai renovasi rumah tak selesai karena kehabisan modal hanya karena membayar tukang yang kemahalan.


Hobi Bekerja

Kerja gurinda

Hari sudah malam, Big Pa ~bapak mertua saya~ belum selesai “bekerja”. Selepas shalat Maghrib tadi beliau melanjutkan kerjaannya, membelah plat besi dengan gurinda, entah untuk apa. Saya kadang tak enak meninggalkannya kerja sendiri, walaupun mungkin beliau menganggap kehadiran saya malah mengganggu. Tapi lebih tak enak jika beliau kerja dan saya duduk tentram nonton tv atau khusyuk merebahkan diri di kamar. Kerja menurut beliau adalah hobi, badannya terasa pegal jika duduk diam. Walaupun sudah pensiun, beliau malah semangat bekerja. Semoga tetap sehat Pa.


Hari Ini, Trans Studio Makassar

Foto dari bianglala

Foto dari ketinggian bianglala Trans Studio Makassar. Orang-orang tampak kecil. Saya lagi tidak mood foto-foto, tak ada ide dari sudut mana mengambil foto yang baik, ahh sudahlah. Trans Studio Makassar, ini kali kedua saya kesini, gratisan dari bunda Ulan, acara family gathering kantornya. Ini kali pertama Khal kesini. Bayangkan wajah sumringahnya saat melihat bianglala, atau komedi putar besar. Naik odong-odong saja dia tak mau turun, apalah lagi kalau naik roller coaster. Sayangnya, dia belum cukup umur, jadinya “hanya” naik bianglala dan kereta-keretaan.