Monthly Archives: September 2015

Pertemuan Pertama, Renkon KKM

Ruang Pertemuan

Pertemuan pertama setelah jobless, di hotel pula. Hotel baru di bilangan Sudiang Makassar ini keren punya. Ruang pertemuannya representatif dengan fasilitas eksklusif. Hotel Grand City namanya, sepertinya punya Grand Clarion Makassar. Entah hotel ini berbintang berapa, yang jelas lumayanlah. Pertemuan lintas sektor ini bertajuk Rencana Kontinjensi Kedaruratan Kesehatan Masyarakat. Diharapkan semua pihak siap sedia jika sewaktu-waktu terjadi situasi darurat kesehatan, seperti tragedi di Mina itu. Semoga saja tidak, yang pasti kita semua harus siap. Rencananya berlangsung selama tiga hari. Semoga berkah, Bismillah.

Iklan

Hard to Feel

Sup Konro

Sudah tiga hari sibuk dengan kuliner daging-dagingan. Dihari lebaran makan rendang, kemarin makan coto, dan puncaknya hari ini makan konro. Sempat dinetralisir tadi malam dengan mie telur. Tapi apalah daya, sepertinya kolesterol naik dengan tajam, tandanya sudah sulit bernafas dan bergerak. Memang Idul Adha adalah hari berbagi (daging). Yang jarang makan daging, inilah saatnya menumpuk lemak. Namun bagi saya yang kelebihan lemak, harus pandai-pandai menahan nafsu makan. Untunglah ada Sar, istri tersayang yang selalu mengingatkan. Memarahi jika porsi makan berlebih. Mari makan!


Karaokean Tapi Tak Nyanyi

Nyanyi

Malam minggu ditraktir karokean, tapi tidak nyanyi. Suara lagi malas dimerdukan, menahan anu yang mendesak mau keluar. Kalau dipaksakan menyanyi, khawatirnya yang ditahan lama-lama tidak sanggup lagi ditahan. Selain itu, tak ada playlist lagu karokean menjadikan hati bimbang memilih lagu. Jadilah saya terpaksa menikmati suara Sar, Mas Fajar, Kak Ulan, dan Kak Yanti yang merdu itu. Diselingi suara treble empat kurcaci, lengkaplah sudah tersiksanya gendang telinga ini. Sesekali menemani Khal yang dipaksa doyan nyanyi, inilah kali pertama dia tak malu-malu megang mic.


Earphone

Earphone

Saya mengandalkan earphone (headphone, headset, atau apalah namanya) saat sedang sendiri bawa motor, atau jika sedang menunggu. Sekedar mendengarkan musik untuk membunuh sepi. Tapi saya tetap mengindahkan aturan perearphonan saat menggunakannya. Saya melepas earphone saat berbicara dengan orang lain. Selain mengganggu pendengaran, tidak sopan rasanya jika ngobrol tapi earphone masih di telinga. Jika berada di tempat yang kira-kira banyak orang yang mengenal, saya biasanya tetap memasang earphone namun volume musik earphone saya kecilkan, khawatir kalau tiba-tiba ada yang memanggil tapi tidak kedengaran.


Selamat Idul Adha 1436H

Siap siap shalat Idul Adha

Shalat Idul Adha edisi tahun ini dilaksanakan di lapangan Hertasning, tempat yang sama dengan Shalat Idul Fitri kemarin. Lumayan ramai, kami (saya, Mas Fajar, dan Mas Radith) mengambil tempat di tengah lapangan. Lumayan berdebu, makanya kami memakai pengalas koran. Sayang shafnya tidak teratur, tidak ada penanda berupa garis lurus dari tali yang disiapkan panitia. Khatib memberi khutbah seputar makna Idul Adha, intinya sifat binatang yang tamak, rakus, buas, kikir, dan angkuh dihilangkan seiring disembelihnya hewan kurban. Selamat Idul Adha 1436H, semangat berkurban.


RIP NB205

RIP Toshiba NB205

Notebook (laptop, netbook, atau apalah namanya) Toshiba NB205 ini mulai tak mau diajak kerjasama. Lampu indikator bisa menyala, tapi monitor tak merespon. Sepertinya, hardisknya rusak parah. Memang dia sudah tidak muda lagi, tua dan sakit-sakitan. Jeroannyapun keluaran lawas, INTEL ATOM. Walaupun warisan dari Pipi, dialah laptop pertama saya, menemani tugas kuliah hingga wisuda. Makanya saya sudah cinta mati, cinta sampai dia mati. Semoga dia masih bisa hidup walau sesaat, masih ada data yang belum di backup. Dia boleh mati, asal datanya selamat.


Kerja Kerja Kerja

Finger Print

Saya yakin jika bekerja dengan ikhlas, akan ada-ada saja rejeki yang datang dari segala penjuru. Makanya, setelah menyelesaikan studi saya langsung melapor ke kantor untuk masuk kerja. Ada beberapa teman yang belum bisa move on dari dunia kampus, masih mau berlama-lama jobless. Alasannya, mending tidur di rumah daripada ngantor tapi tak ada dikerja, tak ada penghasilan tambahan. Mungkin mereka lupa kalau status mereka adalah abdi negara, digaji dari uang rakyat. Itulah yang dinamakan makan gaji buta, tak bekerja tapi gaji jalan terus.