Menunggu, Part Kesekian

Menunggu

Dejavu, sepertinya saya pernah mengalami hal seperti ini, sering malah. Menunggu dosen pembimbing dengan penuh kesabaran pasti pernah dialami seorang mahasiswa semester akhir. Menunggu dengan penuh ketidakpastian adalah seni tersendiri, seni menahan amarah dan melatih kesabaran. Seringnya, yang ditunggu malah menyuruh menunggu (lagi) di ruangannya, habis itu si dia lupa kalau ada yang menunggunya. Apes. Mau tidak menunggu? Kuliahlah di STIA YAPPI, Sekolah Tidak Ijazah Ada, Yang Penting Punya Ijazah. Alhamdulillah kesabaran hari ini berbuah hasil. Ayam-ayam tertandatangani tanpa diskusi panjang lebar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: