Monthly Archives: Juli 2015

Menunggu, Part Kesekian

Menunggu

Dejavu, sepertinya saya pernah mengalami hal seperti ini, sering malah. Menunggu dosen pembimbing dengan penuh kesabaran pasti pernah dialami seorang mahasiswa semester akhir. Menunggu dengan penuh ketidakpastian adalah seni tersendiri, seni menahan amarah dan melatih kesabaran. Seringnya, yang ditunggu malah menyuruh menunggu (lagi) di ruangannya, habis itu si dia lupa kalau ada yang menunggunya. Apes. Mau tidak menunggu? Kuliahlah di STIA YAPPI, Sekolah Tidak Ijazah Ada, Yang Penting Punya Ijazah. Alhamdulillah kesabaran hari ini berbuah hasil. Ayam-ayam tertandatangani tanpa diskusi panjang lebar.


Susah Keluar Unhas

Wakai

Ujian akhir sudah dilalui, tapi belum saatnya bernafas lega. Masih banyak berkas wisuda yang mesti dikelarkan. Memang benar kata orang, susah masuk Unhas lebih susah lagi keluarnya. Yang paling mengkhawatirkan adalah perbaikan tesis, urusan “ayam-ayam”, dan pembayaran tetek bengek yang tiba-tiba muncul demi prosesi wisuda. Semua harus selesai dalam dua pekan ini. Masalahnya kemudian tak selamanya dosen pembimbing dan penguji ada di kampus, padahal tahap demi tahap pengurusan tanda tangan harus dilalui secara berurut. Kalau ada urusan yang terlupa, sakitnya tuh disini.


Buku Gambar Pertama

Buku Gambar Pertama

Buku gambar pertama dan satu set alat gambarnya. Apa yang bisa digambar oleh seorang anak yang belum genap dua tahun? Belum ada kecuali benang kusut, sekedar corat-coret tak jelas. Kakak-kakaknya hari ini bersekolah hari pertama, semua serba baru termasuk buku gambar dan alat tulis. Daripada memporakporandakan punya orang lain, mending Khal dibelikan juga. Sekedar punya-punyaan, alih-alih belajar. Terserah mau dia apakan asal jangan dimakan. Semoga buku gambarnya bisa bertahan lama, tidak dirobek atau dihilangkan. Semoga Khal bisa pintar menggambar, minimal gambar balon.


Sisi Lain Kota Kita

Rumah Pemulung

Pagi menyapa, saya niatkan untuk untuk berolahraga, minimal jalan kaki. Tak ada tujuan, dengan sendal jepit saya menyusuri jalan. Di tepi kanal, ada jalan beton. Saya penasaran ada apa di ujung jalan. Saya beranikan diri kesana, padahal jalan baru yang masih asing bagi saya. Di ujung jalan beton, banyak rumah petak para pemulung. Saya teruskan jalan tanah hingga mentok, ternyata sampai di tepi bendungan Pampang. Beberapa rumah para pemulung berdiri di tepi bendungan. Tak pernah terperhatikan jika melewati bendungan dari sisi sebelah.


Ambil Hikmahnya

Seberang Gedung UNM

Gedung Tellu Cappa UNM di bilangan Jalan Pettarani Makassar. Bosan melihat gedung ini, dua hari ini melewati jalan di depannya demi ke sebuah toko yang konon katanya murah meriah walaupun jaraknya tak bisa dibilang dekat dari rumah. Kadang saya heran dengan pikiran ibu-ibu, harga beda lima ribu tapi berani ambil resiko. Resiko kecelakaan, macet, atau ditilang polisi. Belum lagi soal capeknya, atau biaya parkir. Kadang saya memaklumi jika barang yang dibeli banyak. Tapi kalau sedikit? Yah terpaksa dimaklumi. Ambil hikmahnya, bisa foto-foto.


Masjid Muhammad Cheng Hoo

Masjid Muhammad Cheng Hoo

Hari ini shalat Jumat di Masjid Muhammad Cheng Hoo Makassar, lama baru saya shalat lagi di Masjid ini. Sebelumnya, Masjid masih dalam tahap pembangunan, mungkin masih 60%. Sekarang Alhamdulillah sudah lebih 90%. Parkiran sudah luas, jamaahnya pun membludak. Masjid ini jauh dari pemukiman penduduk, sekitar 3 kilometer lebih dari rumah mertua. Sepertinya Masjid ini memang disiapkan sebagai Masjid wisata untuk para musafir. Dibangun oleh keluarga almarhum Cheng Hoo, muslim Tionghoa. Semoga kelak saya juga bisa membangun sebuah masjid, dan memakmurkannya. Allaahumma Amin.


Kurang Piknik

Penipu Jalanan

Libur lebaran telah usai, saatnya kembali hidup normal. Liburan kemarin dihabiskan dari rumah ke rumah, dan mall. Silaturrahmi ceritanya. Sempat juga ke tempat makan. Ada satu yang belum terjamah, tempat wisata. Sedikitnya pilihan tempat wisata yang nyaman di Makassar ditambah waktu libur yang kurang membuat kami malas ke tempat wisata. Puncaknya semalam, kami merasa harus “keluar kandang”. Alternatif tempat wisata murah selain mall adalah pantai Losari. Tapi di anjungan Pantai Losari waktu dihabiskan hanya dengan nonton penipu jalanan. Betul-betul kami kurang piknik.