Monthly Archives: Mei 2015

Demi Sesuap Nasi Kuning

Antrian Nasi Kuning

Nasi kuning Riburane. Baru kali ini saya mengantri nasi kuning. Nasi kuningnya memang enak, tapi ada rasa ada harga. Harga seporsi nasi kuning Riburane tiga kali lipat harga nasi kuning kebanyakan, tapi rasanya? Sepertinya tiga setengah kali lipatlah dengan nasi kuning yang lain. Saya tak persoalkan rasa apalagi harganya, sensasi mengantrinya ituloh yang berasa. Apalagi kalau dari rumah yang jauh dari lokasi ini, naik motor pula. Cerita baiknya, kami bertiga sama-sama mengantri. Cerita tidak baiknya, bungkusan nasi kuning bawaan kami dimakan kucing.

Iklan

Berakhir Mall di Pekan

Penjual Mainan

Hampir tiap akhir pekan kami ke mall, entah mengapa, ada-ada saja alasannya. Sabtu ini kembali kami ke mall. Mungkin karena mall adalah tempat paling mudah diakses, dan murah. Mall berada tepat di pusat kota, cukup tancap gas paling lama setengah jam, kami sudah sampai di mall. Mau seharian di mall pun tak masalah, gratis. Paling membayar biaya parkir beberapa ribu rupiah. Sampai di mall hanya keliling-keliling, tawaf sampai capek. K sangat suka diajak ke mall, spot tempat jual mainan paling dia suka.


Mahasiswa Sabar, Mahasiswa Sejati

Mahasiswa

Skill mahasiswa tidak dilihat dari nilai IPK-nya. Tapi dilihat dari apanya coba? Gondrongnya? Kalau saya dilihat dari sabarnya. Mahasiswa berskill, mahasiswa sejati adalah mahasiswa yang bukan hanya cerdas dari sisi akademik, tapi juga dari sisi emosional. Tidak mudah tersulut emosi, penuh kesabaran. Sabar menunggu mood dosen pembimbing untuk berdiskusi, atau sekedar menunggu tandatangan persetujuan ujian hasil penelitian. Salut saya buat mahasiswa yang demikian sabar. Tapi saya lebih menaruh hormat kepada dosen yang sabar menghadapi mahasiswa yang bebal, dikejar-kejar tak mau selesaikan tesisnya.


Bahagia di Ujung Senja

Ujung Senja

Matahari hampir terbenam, tujuan selanjutnya adalah rumah. Saat yang paling menyenangkan adalah saat pulang ke rumah, berkumpul bersama keluarga. Rasa lelah perlahan sirna mengingat hal-hal yang dilakukan bersama keluarga di rumah. Saat senja adalah saat paling menyenangkan, lalu hal apa yang lebih membahagiakan? Saat berpuasa dan senja telah menyapa, saat menanti waktu berbuka puasa, saat kemenangan tiba. Lalu kapan lagi? Saat hutang telah lunas, hutang puasa. Mungkin itu yang dirasakan S, saat senja jelang buka puasa bayar hutang terakhir. Selamat berbuka puasa.


Poles Batu Akik Termurah

Dua Biji Batu Akik

Saya punya beberapa koleksi bongkahan batu, hampir seluruhnya pemberian. Niat awal hanya ingin menyimpannya, tapi butuh ruang yang lumayan merepotkan kalau dibawa-bawa. Mending saya poles seadanya, biar lebih menarik. Tapi harga poles batu dari bongkahan menjadi batu permata tidak murah. Paling murah 30 ribu, itupun tanpa jaminan batu permata jadi bagus dan sempurna. Akhirnya saya dapat tukang poles batu termurah di Makassar, hanya 15 ribu. Inilah dua biji batu hasil karyanya, sisik naga dan fosil kelor. Lumayan, hasil polesan batu sesuai harganya.


Makan Sendiri, Sedih Sendiri

Bukan Nasi Plastik

Hal yang kadang menyedihkan adalah makan sendiri. Apa boleh bikin, tinggal di rumah sendiri kadang membuat ini terjadi. Biasanya saya masak sendiri, nasi dengan lauk seadanya, atau mi instan plus telur. Tapi siang ini rasa lapar tiba-tiba menyerang, tubuh gemetar. Telur bersisa satu, itupun ternyata telur busuk. Saya bergegas ke warung dekat rumah, pesan nasi ikan tahu tempe. Harga sepuluh ribu, pas dikantong. Saya bersyukur, ada warung dekat rumah, praktis. Lumayan menghilangkan rasa lapar. Makan sendiri, kenyang sendiri, bayar sendiri, sedih sendiri.


Membatu, Sebuah Hobi Baru

Batu Akik Badar Lumut Super

Beberapa bulan ini saya punya hobi baru, membatu. Berawal dari bongkahan batu pemberian Mas Y yang sayang jika tak dipoles, sekarang koleksi batu sudah tak dapat dihitung dengan jari. Baik yang masih berupa bongkahan, sudah terpoles, atau sudah dalam bentuk cincin batu. Batu-batu ini saya simpan, dijadikan koleksi, kadang saya “pamer”. Kalau ada teman atau sahabat atau orang “penting” yang suka, batu saya boleh dilamar dengan mahar. Hobi baru membatu boleh saja, hobi lama ngeblog jangan dilupa, jadilah saya ngeblog tentang batu.