Enak Tinggal di Desa?

PSX_20180718_191009

Sedari kecil saya selalu punya impian tinggal di desa, di depan rumah ada sawah menghampar luas, walaupun sawah punya tetangga. Entahlah, sepertinya enak tinggal di desa, sepertinya tenang. Padahal lain padang lain belalang, lain tempat lain masalahnya (begitukah pepatahnya?). Selain jauh dari akses minimarket (seperti di kota kalau lapar tinggal ke indomaret beli indomie), sulit air bersih dan penyakit kulit sering menghampiri masyarakat yang tinggal di desa. Sering-seringlah menggaruk apabila serangga dari tanaman padi hinggap di kulit. Nikmati saja pemandangannya, sambil melamun.

Iklan

Tape Ketan Hitam Soppeng

20180717_201004

Tape ketan hitam buatan mama, disantap bersama es batu malam ini. Hampir saja saya lupa, ternyata tapenya sudah “masak”. Kemarin dulu usia tape baru 2 hari, kata mama belum masak. Hari ini sudah 4 hari, sudah masak. Kalau lebih lama, si tape bisa memabukkan. Cara menghentikan fermentasinya adalah dengan memasukkannya ke kulkas. Soppeng terkenal dengan tape ketan hitamnya, bisa dibilang kuliner khas Soppenglah. Sudah ada yang menjualnya di daerah Paccerakkang Makassar, dijual di mobil tidak keliling. Tapi, paling enak buatan mama. Mau?


Obat Puyeng

Pulang-pulang, lelah baru terasa saat sampai di rumah Papa Boss. Semakin lelah saat yang diharapkan menyambut ternyata belum pulang juga. Lelah berkali lipat saat si kecil Khal rewel, meminta sesuatu yang sepertinya mustahil diwujudkan. Khal mau ke sekolah, main-main, padahal sekolah kan sudah tutup sore begini. Rewelnya minta ampun, sampai teriak-teriak. Puyeng bukan? Sebagai ayah, saya hanya memberitahunya baik-baik, sambil mbatin dan menghela nafas pendek. Daripada makin puyeng, lebih baik mengutak-atik gawai, melihat hasil foto hari ini. Karst Rammang-Rammang ini favorit saya.


Langit Merah Senja

Saya selalu terpesona dengan pemandangan senja. Ada rasa unik, khusyuk saat langit memerah di ujung barat saat matahari terbenam. Rasanya seperti di negeri antah berantah, seperti dalam mimpi. Kalau sedang di jalan (kebanyakan sedang dalam perjalanan pulang dari kerja) dan ada kesempatan berhenti, saya menepikan motor dan memotret langit senja seperti ini. Walaupun kabel listrik sedikit mengganggu pemandangan, saya tetap menikmatinya. Dimana pun, selama tidak mendung apalagi hujan, pemandangan senja pasti sama indahnya. Masya Allah, semoga masih diberi usia untuk menikmati bumiNya.


Photoshop Express: Gleam

Banyak pilihan editing foto secara instan. Selain editing foto yang ekstrim seperti sketsa, ada juga yang edit foto sederhana dan alami sebatas pengaturan kontras dan warna. Saat ini saya lagi suka-senangnya editing foto dengan Photoshop Express. Pun tidak semua mode saya pakai, hanya modus Gleam yang paling sering terpakai. Dengan Gleam, hasil foto tampak lebih terang. Contohlah foto sawah ini yang sebelumnya tampak kusam, setelah dipermak jadilah sawah tampak lebih hijau dan langit seakan lebih biru. Foto sebelumnya juga pakai mode ini.


Kota Metro Makassar

Kota Makassar difoto dari ketinggian tampaknya belum seperti kota metropolitan (bahkan megapolitan). Gedung tinggi masih seiprit, mungkin malah tidak ada gedung (pencakar langit). Ataukah ngambil fotonya terlalu tinggi? Ah tidak juga. Foto ini dari lantai 16 sebuah hotel di pusat kota Makassar. Beda pemandangannya kalau di Jakarta atau Tokyo, pencakar langit disana-sini menghalangi hamparan pemandangan. Gungung yang sangat jauh itu (mungkin gunung Bawakaraeng atau Latimojong atau Lompobattang atau Bulusaraung) masih bisa kelihatan. Langitpun masih terlihat sedikit biru. Diedit seadanya biar sedikit keren.


Secangkir Susukopi

Secangkir susu kopi melepas penat setelah seharian nguli. Kalau di warkop, pesan kopi porsi demikian disebut “kopi kecil”. Sedikit lebih besar dari cangkir ini disebut “kopi besar”, walaupun beda antara yang besar dan yang kecil cukup tipis, mungkin hanya seteguk. Kalau di warkop tak lama, saya pesan yang kecil saja. Malam ini yang kecil juga, buat sendiri. Kemarin dulu segelas kopi superbesar, mungkin sekira 500 ml, diseruput sampai pagi dengan jeda tidur. Kopi kecil ini mungkin saya seruput satu jam saja. Mau?