Pusat Kota

Tinggal di pusat kota seperti Jakarta Pusat bagaimana rasanya yah? Adakah “rakyat jelata” yang tinggal menetap disini, berbagi oksigen dengan istana negara contohnya, atau bersebelahan tembok dengan hotel berbintang sekian? Saya bisa bayangkan property disini minta ampun harganya. Saya yang rakyat jelata dari pinggiran kota tak bisa membayangkannya. Bagaimana interaksi antar warga? Nafsi nafsi, kau kau, saya saya. Tentu pemandangan yang sangat kontras nan senjang akan tampak. Di lorong rakyat jelata penuh jemuran, di hotel sebelah asyik berenang. Sepertinya tak ada “rumah”.


Semangat Melemah

Mungkin Mbayyah sudah lelah. Menyiapkan hidangan buka puasa buat seluruh anggota keluarga dijalani sejak siang hari, saat penghuni rumah sedang beribadah (baca: baring-baring malas) di kamar atau menonton tv di ruang tengah. Walaupun melelahkan, aktifitas “melayani” tetap Mbayyah lakukan dengan ikhlas. Disela kesibukannya, Mbayyah kadang beristirahat (baca: tertidur) dimanapun. Kadang di sofa ruang tamu, ataupun di lantai dapur yang sejuk. Seperti juga siang ini. Mungkin dia mulai lelah, tertidur dengan pulas sampai tak menyadari tengah difoto. Sehat terus, berbahagialah di sisa pengabdianmu.


Sawah hijau nan sejuk

Sawah dan Gunung

 

Siang jelang Jumatan sepulang tugas luar pemantauan PIN, saya singgah di tepi jalan. Saya selalu takjub dengan pemandangan lansekap sawah dengan jejeran gunung di belakangnya. Gambar pemandangan seperti ini adalah gambar default setiap kali guru memberi tugas menggambar. Mungkin mudah menggambarnya, mungkin juga karena suka. Saya selalu saja membayangkan punya rumah di tepi jalan yang di depannya ada lansekap seperti ini, menyejukkan hati meneduhkan pikiran. Padahal mungkin ada masalah baru bagi yang tinggal di tepi sawah, khawatir banjir dan penyakit kulit. Bagaimana?


Pak tua sudahlah

_20160131_093114

Tak jauh dari tempat duduk kami, duduk melantai seorang bapak yang memakai jaket yang agak kumal, di depannya ada gelas plastik. Sepintas terlihat kakinya diperban. Sepertinya bapak tua ini berprofesi sebagai pengemis, meminta belas kasihan dari pengunjung warung yang punya kembalian beberapa receh dan telah kenyang perutnya. Tanpa kata, beliau hanya menggerak-gerakkan gelas plastiknya saat pengunjung melintasinya, tanda gelas plastik minta diisi. Saya sempat memperhatikannya, mata kami beradu tatap saat pak tua ini mengeluarkan sebungkus rokok dari jaketnya, kemudian membakar dan menghisapnya.


Menu pondok pesantren

DSC_0109

Kalau bisa memilih, saya mau menu makanan yang beragam dan berbeda tiap harinya. Ada karbohidrat, lemak, dan proteinnya, tak ketinggalan vitamin dan mineralnya. Empat sehat Lima sempurna. Konon karbohidrat adalah penambah energi, dan protein adalah penambah kecerdasan. Makanya dalam menu tukang batu porsi nasi lebih banyak, dan dalam menu seorang dosen porsi ikan lebih banyak. Bagaimana dengan porsi menu anak pesantren? Kalau saya jadi anak pesantren dan melihat daftar menu ini, mungkin saya akan jajan diluar tiap hari selasa sampai kamis. Membosankan.


Mimpi indah nak

C360_2015-12-26-23-33-02-520

Khal sudah terlelap dalam tidurnya. Bahagianya orang tua kalau melihat momen seperti ini, anaknya tidur dalam damai. Entah anak dua tahun sudah bisa bermimpi dalam tidurnya atau belum, saya sudah lupa. Yang jelas Khal biasanya mengigau kalau tidur, sepertinya bermimpi diganggu kakak-kakaknya, sampai menangis pelan. Konon mimpi itu adalah bunga tidur, dan mimpi tersebut adalah ekspektasi alam bawah sadar. Kalau pikiran selalu tentang yang baik-baik, mimpi pun akan tentang yang baik-baik tersebut. Kalau anak sering main dengan gembiranya, mimpinyapun akan tentang permainan.


Macet pasti berlalu

_20151223_214953

Pantat berkedut, tanda kalau sudah bosan duduk. Macet dari bandara lama ke bandara baru telah dilalui, ternyata gara-gara “lampu merah” di perlimaan bandara mati. Tak ada yang mau mengalah, saling mendahului. Pak polisi pun jadi bingung, sendirian berusaha mengatur lalulintas yang luar biasa semrawut. Awal libur panjang, mati lampu, jalan sempit, dan volume kendaraan meningkat jadi penyebabnya. Total satu jam dihabiskan melewati jalan yang tak sampai satu kilometer. Setelahnya, lantjar djaja. Sopir pete-pete membalap mobilnya kesetanan. Mungkin pantatnya juga berkedut. Dut dut.