Pura-pura Adipura

Penghargaan adipura biasa saja, tidak bergengsi. Instrumen penilaiannya hanya fisik saja seperti sampah, ruang terbuka hijau, fasilitas umum, kualitas udara, dan ada tambahan tentang perubahan iklim, pertambangan dan kebakaran hutan. Bukan rahasia lagi ketika menjelang Adipura semua perangkat pemerintahan kabupaten/kota berbenah diri. Kasarnya “berpura-pura”. Instrumen penilaian adipura harus lebih spesifik dan melibatkan penilaian publik apakah semua hasil penilaian yang dilakukan tim penilai sudah objektif atau semuanya hanya “pura-pura” saja. Tentu yang diharapkan adalah keberlanjutan bukan kepura-puraan hanya karena ingin dapat adipura. 


Panorama Gunung Karst

Hamparan tanah lapang, jejeran karst gunung batu, awan putih yang bersusun rapi, dan langit biru adalah pemandangan yang sudah biasa di wilayah perbatasan Maros dan Pangkep. Namun saya selalu takjub apabila disuguhi pemandangan seperti ini, seperti lukisan. Sungguh nikmat yang harus disyukuri kepada Sang Maha Pencipta. Betapa saya ini hanyalah setitik sangat kecil di dunia yang fana ini. Seharusnyalah juga saya menjaga ciptaanNya dengan baik, minimal tidak berkontribusi terhadap kerusakan alam. Ah, saya ngomong apa? Ngelantur. Sudah larut malam, mari bermimpi indah.


Masa Paling Bahagia

Hari ketiga “sekolah”, belum pakai seragam karena belum ada baju “pembagian”. Pagi dihabiskan dengan bahagia, bermain ular naga panjang bersama teman dan ibu guru. Walaupun terlambat, ibu guru tak marah, langsung masuk ke paling akhir barisan. Langsung bermain sambil seru-seruan. Anak-anak TK lah yang paling bahagia sedunia. Pikirannya hanya bermain, bermain, dan bermain. Tak ada beban hidup. Berbahagia teruslah nak, walaupun mungkin besok-besok main sudah berkurang, bertambah belajar yang semoga tetap membuatmu bahagia. Eh, guru TK mungkin profesi paling bahagia di dunia.


Libur Lebaran di Bili-bili

Lebaran Idul Fitri 1438H Hari Ketiga kemarin dituntaskan di tempat wisata kuliner Bendungan Bili-bili, Kabupaten Gowa. Seperti biasa, Papaboss yang mentraktir kami. Tak perlulah saya ceritakan bagaimana ikan air tawar yang ditawarkan disini membuat perut kembali melar setelah puasa plus diet sebulan penuh, cukuplah saya yang merasakan “penyesalan” ini. Yang (lumayan) penting adalah permainan perahu bebek-bebek yang baru saya perhatikan ada dibanding kunjungan-kunjungan sebelumnya. Bebek-bebekan ini menawarkan jasa keliling pulau di tengah bendungan 20ribu perorang. Lumayan menghibur anak-anak. Selamat lebaran, semangat berlibur.


Hari nan Syahdu, Semangat Berpuasa

Hari pertama puasa Ramadhan edisi 2017 berjalan khusyuk. Cuaca yang biasanya panas terik menyengat tidak tampak hari ini, berganti mendung-mendung syahdu tanpa hujan. Sungguh, Allah sangat meringankan puasa hari ini, Alhamdulillah bisa beribadah dengan enjoy. Hal yang menjadi sedikit penghalang hanyalah postingan makanan dan minuman di medsos yang syukurlah tidak sampai membuat ngiler dan menelan ludah. Ataupun pergosipan murahan yang entah mengapa tak bisa di counter. Mungkin sebaiknya memperbanyak tadarusan ataupun nonton ceramah agama. Semoga suasana esok hari seperti ini. Semangat berpuasa.


Meja Njlimet

Meja berantakan tak terurus, mungkin demikian juga dengan isi kepalaku, njlimet. Istirahat siang ini diisi dengan makan siang, lalu mengkhayal, bermuram durja, dan foto-foto. Njlimet? Ya. Gaji 13 tak kunjung terang benderang, paska kasus mbolos upacara kemarin. STNK kendaraan pinjaman jatuh tempo besok. Baru saja pulang dari pegadaian, mencari solusi penyambung hidup, minimal setengah bulan kedepan. Kiriman barang tak sampai-sampai dari JNE menambah galau hari ini. Sepertinya segelas besar kopi bisa menentramkan gundah gulana, tapi meja berantakan membuat bad mood lagi. Semangat!


Pusat Kota

Tinggal di pusat kota seperti Jakarta Pusat bagaimana rasanya yah? Adakah “rakyat jelata” yang tinggal menetap disini, berbagi oksigen dengan istana negara contohnya, atau bersebelahan tembok dengan hotel berbintang sekian? Saya bisa bayangkan property disini minta ampun harganya. Saya yang rakyat jelata dari pinggiran kota tak bisa membayangkannya. Bagaimana interaksi antar warga? Nafsi nafsi, kau kau, saya saya. Tentu pemandangan yang sangat kontras nan senjang akan tampak. Di lorong rakyat jelata penuh jemuran, di hotel sebelah asyik berenang. Sepertinya tak ada “rumah”.